Langsung ke konten utama

MENGGALI POTENSI DIRI SENDIRI

“MENGGALI POTENSI DIRI SENDIRI”

Salam sejahtera, perkenalkan nama saya David Tamba. Saya akan coba menceritakan pengalaman saya mengenai apa yang terjadi pada kehidupan saya yang menyangkut dalam menggali potensi diri. Pada saat awal masuk perkuliahan tahun 2013 saya baru saja kembali lagi ke Jakarta, dikarenakan pada saat SMA kelas 2 saya di bawa oleh orang tua saya untuk pindah tugas kerja ke medan, sedangkan kakak dan abang saya tidak ikut bersama-sama dengan kami di karenakan sudah memasuki perkuliahan dan sudah bekerja.
Pada saat saya tinggal di medan saya di sekolahkan di SMA Swasta Trisakti medan, saya bertemu orang baru kembali, saya beradabtasi kembali, pokoknya saya memulai itu semua dari 0 kembali. Sama halnya dengan sebelumnya saya mendapatkan teman, sahabat, dan pengalaman baru, setelah saya naik kelas 3 SMA dan ujian sudah mulai berdatangan, tepat pada saat ujian nasional berlangsung orang tua saya harus pindah tugas kembali ke daerah di Sumatra utara.
Hari demi hari saya lewati hingga pengumuman kelulusan tiba, dan saya berencana untuk kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi untuk saya. Sebelum saya pindah ke medan saya sudah aktif pelayanan di gereja yang bertempat di cibubur. Tak disangka teman-teman saya yang dulu satu pelayanan saya di cibubur masih mengenali dan ramah terhadap saya, lalu saya di angkat menjadi badan pengurus olahraga di gereja tersebut. Setelah menjalani itu semua tak lama kemudian saya di pilih oleh badan pengurus keseluruhan untuk memimpin salah satu event besar pemuda/pemudi di gereja tersebut.
Event yang saya ketuai bernama “Pekan Olahraga dan Seni” event ini yang di adakan untuk pemuda/pemudi gereja tersebut untuk memperlombakan dari tiap-tiap daerah. Event ini mempunyai perlombaan 3 olahraga dan 2 seni. Saya merasa menjadi ketua itu menjadi hal yang enak dan gampang untuk di jalankan, ternyata itu salah. Hari demi hari event ini semakin  dekat. Masalah pun saling berdatangan, saling beradu argument satu sama lain. hingga pada saat acara terbesar saya marah ketika saya hendak mengarahkan ada seseorang yang hendak berbicara dan tidak memperhatikan apa yang saya arahkan. Jujur saya disitu juga merasa bersalah karena sudah membentak dia dan hingga ingin mendatangkan keributan di antara kita. Hingga pengarahan selesai kami berencana untuk membicarakannya yang kebetulan kami ini adalah satu perkumpulan main di luar gereja. Saya meminta maaf atas apa yang saya perlakukan saya tidak sepantasnya untuk membentak dia, saya mengira dia akan marah, ternyata saya salah, dia juga meminta maaf karena pada saat saya sedang menjelaskan dan dia ngobrol yang mengakibatkan terganggunya suasana untuk menerangkan.
Saya bangga terhadap panita yang terdapat pada event tersebut, ternyata mereka mempunyai tanggung jawab masing-masing untuk menjalankan kegiatan ini. Hingga acara penutupan event ini berlangsung dengan baik. Banyak pembelajaran yang saya dapatkan di dalam organisasi ini, dalam situasi apapun kita tidak boleh lagsung mengeluarkan apa yang ada pada amarah dan pikiran kita, coba kita bicarakan dan berbicaralah selagi kita bias berbicara dengan baik, terimakasih .

  

Komentar